Tradisi Wiwit Saparan di Kebakan, Mojosongo, Boyolali: Sarana Keberkahan

Dengan berpatokan peristiwa munculnya air sumber di sendang keramat di Bulan Sapar, maka warga masyarakat Kebakan, Mojosongo, Boyolali pun menandainya dengan tradisi yang disebut Wiwit Saparan. Nah bagaimana prosesi ritual dan tradisi turuin temurun ini?

ADA sebuah acara tradisi yang mbalung sungsum dan dipercaya telah ada lebih dari seratus tahun yang lalu oleh warga Kebakan, Mojosongo, Boyolali, Jateng. Tradisi ini dinamakan Wiwitan Sapar. Nah, meski memiliki nama demikian bukanlah berarti acara tersebut digelar pada permulaan bulan sapar. Pelaksanaan acara ini justru jatuh pada pertengahan bulan sapar, yakni pada hari kamis atau Jum’at pahing. “Biasanya hari pelaksanaan acara ini jatuh pada tanggal 14 atau 15 jawa. Sehingga meski  namanya wiwitan saparan pelaksanaannya justru pada pertengahan bulan,” ujar Tomo, juru kunci sendang.

Lebih lanjut lagi Tomo mengatakan bahwa nama wiwitan yang ada dalam tradisi tersebut diambil dari peristiwa saat pertama kali keluarnya sendang yang ada di desa tersebut. Di dekat lokasi dimana acara wiwit saparan ini dilaksanakan setidaknya terdapat lima sendang yang dipercaya memiliki tuah tersendiri. Nama-nama sendang tersebut antara lain adalah sendang wedokan, sendang elo, sendang waluyo jati (sendang lanang), sendang lumpit, dan sendang cuwilan. Masyarakat setempat percaya bahwa air yang adadalam sendang tersebut memiliki tuah sendiri-sendiri. Dengan adanya kepercayaan semacam ini tidaklah mengherankan apabila banyak warga yang datang dan ngalab berkah dengan menggunakan air sendang tersebut. Kabarnya, dari kelima sendang ini yang paling besar sawab gaibnya adalah sendang walujo jati.

“Acara wiwit saparan yang kami gelar sekali dalam setahun ini. Sebenarnya adalah wujud rasa syukur kami yang kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala anugrah-Nya kepada kami. Anugrah tersebut adalah kembali mengalirnya mata air yang ada dalam sendang tersebut. Sehingga dengan kembali mengalirnya mata air tersebut kolam-kolam yang ada dalam sendang tersebut bisa digunakan kembali oleh warga sini,” tambah Tomo.

Acara yang dilangsukan pada jum’at (/12) pagi ini berjalan dengan sangat khidmat dan sakral. Pelaksanaan ritual sudah dilakukan semenjak pagi buta. Saat matahari belum terlalu jauh meninggalkan gasris cakrawala dua ekor kambing kendit langsung disembelih di dekat sendang yang berada tidak jauh dari lokasi sendang. Setelah itu dua kambing yang baru disembelih itu lantas dibersihkan dan dikuliti. Setelah itu dua kambing kendit yang telah dibersihkan dari bulu dan kotorannya itu lantas dimasak.

Uniknya dalam acara ini semua hal dilakukan oleh kaum laki-laki. Mulai dari menyembelih, menguliti, memotong-motong, hingga memasaknya semua dilakukan oleh kaum pria. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah saat memasak daging kambing yang telah dipotong tadi hingga masak menjadi gule tidak ada satu pun warga yang mengicipinya. Apabila ada warga yang berani mengicipi makanan saat proses memasak dipercaya pelaku akan menerima hal buruk. (Selengkapnya baca Tabloid posmo edisi (861)