Pergantian Tahun Adalah Sunatullah

Kini kita telah memasuki tahun 2016. Rasanya begitu cepat. Waktu demi waktu berganti, siang dan malam silih berganti menjadi hitungan minggu, bulan, dan tahun. Pergantian waktu tersebut sejalan dengan perputaran bumi pada porosnya serta pergerakan matahari mengelilingi bumi tiada hentinya sesuai dengan sunatullah. Dan itu sudah dijabarkan pada Teori Geosentris bahwa bumi adalah pusat dari alam semesta atau tata surya.
Perputaran matahari mengitari bumi sebagaimana yang telah digariskan Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya: “Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al An’am: 96)

Kita sebagai individu manusia dalam kehidupan sehari-hari bertindak dan menjalankan fungsi dan peran masing-masing yang berbeda-beda, baik bagai seorang pemuda, selaku suami/istri, seorang ayah dan kepala rumah tangga, sebagai istri dan ibu rumah tangga, sebagai karyawan/karyawati atau pegawai negeri dan segala macam profesi tentunya telah menjalankan peran dan fungsinya masing-masing sesuai dengan eksistensinya.
Peran dan fungsi sebagai amanah dari Allah kepada segenap insan tentunya harus dijalankan sesuai dengan norma-norma dan hukum yang berlaku, baik norma-norma dan hukum yang digariskan dalam syari’at agama berdasarkan Alquran dan as-Sunnah, juga norma-norma dalam kemasyarakatan serta undang-undang permerintah yang berlaku.

Dan yang paling utama kita sebagai individu-individu muslim, perlu merenungi diri kita sendiri tentang apakah kita sudah melakukan perbuatan amal saleh yang diperintahkan oleh syari’at, menjauhkan segala bentuk larangan, sudahkah kita menjauhi segala bentuk perbuatan maksiat yang berbuah dosa, apakah kita pernah melakukan perbuatan zalim terhadap sesama manusia atau melakukan kezaliman atas diri kita sendiri.

Lembaran-lembaran masa lalu merupakan sejarah hidup kita secara amat rinci dan itulah yang kelak akan disodorkan kepada kita untuk dibaca di hadapan Allah pada hari perhitungan nanti. Justru itu lebih tepat apabila sebelum tibanya hari panggilan akhirat kelak kita semua mau mengadili diri sendiri. Dengan merenungi sejarah hidup tahun yang telah berlalu sebagai introspeksi atau evaluasi yang dalam Islam dinamakan muhasabah
“Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin, atau orang yang hari esok sama dengan hari ini, orang itu akan merugi. Orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin orang itu sungguh celaka, tetapi apa bila hari ini lebih baik dari kemarin, atau hari esok lebih baik dari hari ini, maka orang itu akan beruntung” (al-Hadis)

Dari hadis yang dikutip di atas nyatalah bagi kita bahwa sebagai manusia di dalam melakoni hidup ini kita dituntut dalam setiap gerak kehidupan berbuat yang lebih baik dari hari kemarin, begitu pula tentunya hari esok harus dibuat menjadi lebih baik daripada hari ini. Sehingga kita termasuk dalam golongan orang yang beruntung.

Apabila di antara kita sementara ini termasuk golongan yang merugi ataupun termasuk golongan yang celaka, maka harus diusahakan untuk mendekatkan diri dan meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Cobalah untuk mengubah cara dan pola hidup yang lebih mendekatkan kita kepada perbuatan-perbuatan yang berkaitan dengan kebaikan dan melupakan perbuatan-perbuatan yang kurang atau tidak terpuji dan tidak bermoral. (selengkapnya baca tabloid posmo 865)