Pergantian Tahun 2015- 2016: Introspeksi, Bersyukur,dan Selalu Ingat Tuhan

Akhir tahun menurut sebagian orang adalah hari nahas. Lantaran banyaknya peristiwa yang memakan korban nyawa. Begitu juga dengan awal tahun, Januari masih dianggap sebagai bulan keramat. Akan tetapi, setiap kejadian alam tentu ada hikmahnya. Namun demikian, manusia tidak serta merta mengetahui dan menyadari apa hikmah di balik bencana atau musibah itu baik dari sisi korban jiwa, kejadian alamnya atau bahkan waktu kejadian itu sendiri.

BUKAN untuk membuka luka lama. Tsunami Aceh adalah salah satu bencana besar yang pernah terjadi di negeri ini. Nah, beberapa waktu yang lalu, seluruh nelayan di Aceh berhenti melaut selama dua hari. Mengenang 11 tahun bencana tsunami yang merenggut lebih 200 ribu jiwa. Mereka menghentikan aktivitas melaut sejak Kamis malam. Wakil Sekjen Panglima Laot Aceh, Miftah Cut Adek mengatakan, 26 Desember sudah diputuskan sebagai hari pantang melaut di Aceh, karena tanggal itu bertepatan dengan terjadinya tsunami. Nelayan baru diperbolehkan kembali melaut hari Sabtu sore mulai pukul 18.00 WIB.

Peringatan itu masih satu dari peringatan bencana dan musibah yang melanda negeri ini. Perlu adanya refleksi akhir tahun, haruskah kita bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Disaat saudara kita terkena musibah, yang kita lakukan adalah liburan di sejumlah tempat wisata yang ada di Indonesia. Hingga kita lalai untuk mengingat-Nya. Budaya yang baru terjadi akhir-akhir ini jika liburan dan tahun baru menjadi moment penting yang diabadikan mereka nantikan. Seperti yang akan terjadi sebentar lagi, yang mana semua umat manusia merayakan pergantian tahun dari 2015 berganti 2016.

Perlu diketahui bahwa sudah berkali-kali Indonesia mengalami berbagai musibah, baik bencana alam maupun kecelakaan. Misalnya, tanah longsor, tsunami, pesawat jatuh, pesawat hilang, kapal karam, kebakaran kampung, kabut asap, cuaca extrime, banjir di Jakarta, puting beliung di bandung kebakaran di pasar Klewer Solo sampai dengan musibah pesawat air asia yang hilang kontak dan ditemukan jatuh di daerah pangkalan bun dengan ditemukannnya 6 orang korban dan serpihan-serpihan dari milik Air Asia. Bencana yang terjadi di negara ini adalah salah satu peringatan kepada kita semua untuk selalu mengingat kepada-Nya.

Di antaranya terjadi di bulan Desember, menjelang berakhirnya tahun. Musibah yang terjadi di bulan Desember mengingatkan kita dengan sang pencipta. Yang menarik perhatian dan penanganan tingkat nasional, seperti tanah longsor di Karang Kobar, Banjarnegara pada 13 Desember 2014 lalu. Korbannya 95 orang meninggal akibat terkubur. Masih ada 13 orang lagi yang dinyatakan hilang. Sedangkan musibah yang menarik perhatian internasional adalah bencana tsunami di Aceh yang menelan banyak korban jiwa. Terjadi pada 26 Desember 2004.

Saat itu ada 186.983 orang meninggal dan sebanyak 229.826 orang korban gempa dan tsunami yang hilang. Banyaknya korban dan luasnya lokasi bencana menarik simpati dunia internasional untuk ikut membantu menolong korban dan meringankan beban keluarganya. Sebanyak 53 negara terlibat aktif memberikan bantuan baik langsung maupun tidak langsung.Yang terakhir adalah hilangnya pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ 8501 pada 28 Desember 2014. Belum lagi, jumlah bencana yang lain yang memakan korban ratusan nyawa manusia dan juga jumlah korban nyawa kecelakaan kereta api di tambora beberapa waktu lalu. (selengkapnya baca tabloid posmo 865)