Laut Selatan Mengamuk: Jawa Jawi Jangkep, Bangkitkan Nusantara

Tahun 2016 baru saja dimulai. Namun, sudah banyak peristiwa yang menguras air mata. Diharapkan, manusia bisa bersikap lebih arif di waktu mendatang. Salah satu peristiwa yang menyita cukup banyak perhatian adalah peningkatan gelombang laut selatan. Belakangan Laut Selatan seolah mengamuk dan meminta banyak korban. Tanda apakah ini?

Ada yang berbeda dengan kondisi alam di Indonesia belakangan ini. Seolah-olah alam tengah bergolak untuk menunjukkan keperkasaannya kepada manusia. Adanya pergolakan dari alam ini banyak yang menyebutkan disebabkan oleh kelalaian manusia dalam rangka berterima kasih kepada alam. Manusia cenderung bertindak semaunya sendiri. Mengambil semua dari alam tanpa mempedulikan apa yang telah diambilnya. Atas tindakan yang seperti inilah alam seolah marah dan memberikan hukuman kepada manusia. Hukuman yang diberikan oleh alam ini di antaranya adalah adanya perilaku tidak bersahabat yang dilakukan alam. Jika kurun waktu beberapa tahun yang lalu manusia dengan alam bisa berjalan beriringan. Tidak halnya dengan yang terjadi sekarang. Alam seolah menjadi momok yang menakutkan bagi manusia.

Pergolakan atau amarah yang ditunjukkan alam kepada manusia dapat dilihat dari adanya gunung berapi yang tengah bergolak dan memuntahkan isi perutnya. Serta ombak di lautan yang kian mengganas. Di antara kemarahan alam yang saat ini tengah terjadi. Salah satu yang paling kentara adalah amukan ombak laut selatan. Akibat amukan ombak laut selatan di penghujung tahun 2015 kemarin serta awal tahun 2016 ini sudah memakan banyak sekali korban.

Umumnya mereka yang menjadi korban dari amukan ombak pantai selatan adalah para pengunjung yang datang untuk menikmati panorama alam laut selatan yang sungguh memesona tersebut. Laut Selatan sendiri berada di bagian selatan Pulau Jawa. Laut ini berbatasan langsung dengan samudra Hindia. Sejak lama laut ini memang telah diakui kedahsyatan kekuatan ombaknya. Sehingga tidak sembarangan orang yang bisa mengarungi lautan tersebut.

Oleh karena berbatasan langsung dengan samudra dan tidak adanya pulau lain di seberang sana kecuali kutub selatan. Membuat air dari laut ini senantiasa biru bersih. Pemandangan seperti inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi laut ini. Dengan adanya pemandangan yang seperti ini tidaklah mengherankan apabila setiap tahunnya ratusan ribu atau bahkan jutaan orang datang untuk menyaksikan keindahan laut ini. Laut Selatan sendiri juga merupakan salah satu laut yang memiliki garis pantai yang cukup panjang. Berujung di wilayah paling timur Pulau Jawa dan berakhir di bagian barat dari Pulau Jawa.

Di antara sekian banyak laut yang ada di Indonesia, Laut Selatan yang ada di selatan Pulau Jawa ini memiliki keunikan tersendiri. Hampir di semua daerah yang berbatasn langsung dengan Laut Selatan semuanya memiliki kepercayaan yang mayoritas sama. Tentang kepercayaan itu adalah adannya keyakinan bahwa Laut Selatan ada penguasanya. Penguasa dari Laut Selatan tidak lain adalah sosok gaib yang dinamakan Kanjeng Gusti Ratu Kidul. Tidak ada catatan resmi sejak kapan sosok gaib ini muncul dan dipercaya sebagai penguasa keraton gaib yang ada di Laut Selatan. Hanya dalam Babad Tanah Jawa disebutkan bahwa sosok tersebut telah muncul saat pendirian dinasti Mataram Islam yang dilakukan oleh Panembahan Senopati. Mulai zaman tersebut sampai sekarang dipercaya sosok tersebut masih memiliki keterkaitan dengan kerajaan-kerajaan yang notabene masih memiliki hubungan dengan Mataram. Seperti halnya Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Perihal tentang hubungan antara kerajaan-kerajaan penerus dinasti Mataram dengan Laut Selatan ini bisa dilihat dari adanya larungan yang dilakukan. Di sisi lain Laut Selatan juga disebut-sebut sebagai salah satu punjer kekuatan gaib yang ada di tanah Jawa. Oleh karenanya setiap ada pergolakan yang terjadi di laut tersebut diyakini sebagai pertanda akan adanya peristiwa yang terjadi di Pulau Jawa. Peristiwa yang terjadi di Pulau Jawa sendiri juga merupakan petanda akan adanya sesuatu yang terjadi di Nusantara. Sebab, diakui atau tidak untuk saat ini punjer Nusantara berada di Tanah Jawa. Tentang hal yang menyebutkan bahwa punjer Nusantara untuk saat ini ada di tanah Jawa tidak hanya bisa dilihat dengan kacamata spiritual saja. Tetapi bisa dilihat dengan mata biasa. Seperti yang telah banyak diketahui, bahwa pusat pemerintahan dari Indonesia yang notabene merupakan Nusantara semuanya berpusat di tanah Jawa. Sehingga adanya pergolakan sekecil apa pun di tanah Jawa juga akan membawa pengaruh bagi daerah lain di luar Pulau Jawa.

“Pergolakan di Laut Selatan yang menyebabkan jatuhnya korban ini bukanlah peristiwa alam biasa. Ini merupakan isyarat bahwa alam tengah meruwat dirinya. Adanya peruwatan yang dilakukan oleh alam ini merupakan anjuran dari alam supaya manusia memperbaiki tingkah lakunya,” ungkap Dimas Kaca. (Baca selengkapnya posmo eisi 866)