Napak Tilas Brawijaya dan Raja Nusantara

lapsus

Kalau ada yang bilang Gunung Lawu angker, memang benar adanya. Bahkan gunung yang diapit dua wilayah provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur ini, satu-satunya gunung paling angker di negeri ini. Tak heran mereka yang pernah mencapai puncaknya mengaku merasakan getaran-getaran mistiknya. Bahkan ada yang mengaku bertemu dengan Prabu Brawijaya. Lalu apa hubungannya dengan Raja Majapahit tersebut?

SEJAK zaman Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit pada abad 15 hingga Kerajaan Mataram II, banyak melakukan upacara spiritual di Gunung Lawu. Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan Suro. Saat itu, para kerabat Keraton sering berziarah ke tempat – tempat keramat di puncak Gunung Lawu.

Karena melegenda sebagai wahana spiritual itulah membuat Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik meminta doa restu kepada warga Desa Batur, Bali, karena ia berencana dalam waktu dekat akan pergi sembahyang ke Gunung Lawu, di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Terakhir saya mau minta doa restu kepada warga Batur, dalam bulan-bulan ini saya akan menjadwalkan pergi sembahyang di Gunung Lawu,” ujar Jero dalam pidatonya di Upacara Adat Meprani, Desa Batur, Bali, Senin (8/10/2012).

Mengapa ke Gunung Lawu? Jero beralasan presiden-presiden Indonesia kebanyakan berasal dari daerah Gunung Lawu setinggi 3265 dpl tersebut. Ia berharap bisa sukses menjadi menteri hingga 2014, bahkan bisa meningkat lagi kariernya. “Presiden Soekarno berasal dari Blitar sebelah timur Gunung Lawu, Presiden Soeharto berasal dari Kemusuk sebelah barat Gunung Lawu, Gus Dur berasal dari Jombang sebelah utara Gunung Lawu, Megawati anak dari Bung Karno tentu dari Blitar juga, terakhir Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) berasal dari Pacitan di sebelah selatan Gunung Lawu,” ungkap Jero.

Permintaan doa restu oleh Jero ini terkait jabatan sebagai Menteri ESDM bisa langgeng sampai 2014. “Minta doanya, supaya saya bisa sampai 2014 menjalankan amanat sebagai Menteri ESDM, nanti semoga ada peningkatan, ada masanya nanti,” tandasnya.

Wahana Bertapa

Melihat keseluruhan jalur pendakian di Gunung Lawu memang cukuplah menjadi tantangan tersendiri. Syahdan, posmo yang pernah melakukan pendakian di gunung keramat ini pun mencatat beberapa tempat yang menarik sebagai wahana spiritual. Hanya itu dilakukan posmo sudah beberapa tahun yang lalu, kini mungkin kondisinya pun telah berubah.

Namun sebagai gambaran singkat, di puncak Lawu terdapat pegunungan banjaran Festuca nubigena mengelilingi sebuah danau gunung di kawah tua menjelang pos terakhir menuju puncak. Konon, pendaki yang mandi berendam di tempat ini, segala keinginannya dapat terkabul. Namun sebaiknya jangan coba-coba mandi di puncak gunung karena airnya sangat dingin. Rumput yang tumbuh di dasar telaga ini berwarna kuning sehingga airnya kelihatan kuning. Telaga ini diapit oleh puncak Hargo Dumilah dengan puncak lainnya. Luas dasar Telaga Kuning sekitar 4 Ha.

Seorang pendaki atau pelaku spiritual yang naik ke Lawu tentu tak melewatkan tempat sakral yang disebut Sendang Drajat. Di sana ada sebuah mata air yang disebut Sendang Drajat. Sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung, sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus-menerus.

Juga ada sebuah gua yang disebut Sumur Jolotundo menjelang puncak. Gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam 5 meter. Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa.
Terdapat sebuah bangunan di sekitar puncak Hargo Dumilah yang disebut Hargo Dalem yang banyak disinggahi para peziarah.

Di sekitar Hargo Dalem banyak terdapat bangunan dari seng yang dapat digunakan untuk bermalam dan berlindung dari hujan dan angin. Terdapat warung makanan dan minuman yang sangat membantu bagi pendaki dan peziarah yang kelelahan, lapar, dan kedinginan. Inilah keunikan Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl, terdapat warung di dekat puncaknya.

Lalu Hargo Dumilah merupakan puncak tertinggi, ada sebuah tugu yang ketika seorang pendaki dan pelaku ritual mencapai titik ini memeluknya erat-erat. Mitos, bagi yang bisa memeluk tugu puncak Hargo Dumilah akan terkabul cita-citanya.

 Selengkapnya, baca Tabloid Posmo Edisi 700, beredar 24 Oktober 2012