Membuka Mata Batin yang Tertutup

hikmah

Seseorang yang mampu melihat gaib bukanlah sakti. Semua orang bisa melakukan. Hanya saja perangkat-perangkat penglihatannya yang tertutup. Berikut cara membukanya?

Pada ulasan sebelumnya telah disinggung bahwa sejak dari sananya, manusia sudah memiliki penglihatan terhadap gaib. Tetapi, penglihatan itu ditutup oleh logikanya seiring dengan berkembangnya fisik dan kematangan jiwanya. Bila ingin membuka kembali penglihatan yang tertutup itu, maka harus mefungsikan kembali alat-alatnya.

Langkah pertama, kita harus menyadari bahwa penglihatan mata batin itu pembekalan dari Tuhan sejak awalnya. Karena ditutup sendiri oleh logikanya, maka harus mengistirahatkan alam pikirnya. Yakni mengendalikan emosi, menenangkan diri berlatih santai dari gejolak jiwa. Berikutnya, yang senantiasa harus diingat adalah berdoa kepada Tuhan.

Tentunya di dalam berlatih mengaktifkan penglihatan batin harus sabar. Tidak buru-buru kepingin bisa, sebab harus dilakukan setapak demi setapak. Karena perangkat-perangkat itu sudah lama sekali tidak difungsikan, ibarat benda sudah tertutup karat sangat tebal. Maka karat yang menutupi itu harus diamplas dulu sampai hilang. Lagi pula, bila terbukanya terlalu cepat atau tiba-tiba, justru dapat membahayakan. Betapa tidak! Sesuatu yang mengagetkan itu dapat menimbulkan goncangan jiwa.

Untuk melatih penglihatan batin bisa dilakukan sendiri. Bekalnya adalah kemantapan hati, tekad yang kuat, pasrah total kepada Tuhan. Lantas rajin melakukan kontemplasi. Memang lebih baik bila ada petunjuk atau bimbingan dari seseorang yang lebih senior dalam olah kebatinan, yang biasa disebut guru. Pentingnya bimbingan dari guru laku, akan dapat mengatasi dan menghindari bila ada gangguan hal-hal yang negatif sehingga tidak keliru tujuan sejatinya. Juga tidak akan melenceng dari jalur, maka pada gilirannya cepat sampai pada tujuan.

Bila tidak ada guru pembimbing, maka yang penting yakin selalu berada di jalan yang hakiki, yang benar, yaitu jalan ilahi. Dalam perjalanan mempelajari, melatih olahkebatinan, atau spiritualitas ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan tahayul. Kalau melihat makhluk-makhluk halus mendiami tempat-tempat angker, berkeliaran, dan sebagainya, itulah awalnya. Termasuk santet dan hal-hal semacamnya, kita ketahui semata-mata itu adalah ilmu gaib.

Yang jelas bahwa kebatinan adalah jalan yang mulia, metode untuk menghayati kebenaran sejati, mengenali diri sejati, hidup sejati, sehingga hubungannya dengan Tuhan, serasi. Jadi, inti kebatinan adalah istikamahnya hubungan antara kawula dengan Gusti-nya, yakni Allah Ta’ala.

Ada yang menyebut keadaan seperti itu: Wis tinarbuko - bahasa Jawa, sudah terbuka batinnya yang tinggi, sudah mendapat Pencerahan, alias Pepadhang. Ada yang menyebut Unio Mystica – Persatuan mistis kawulo Gusti. Dalam pemahaman spiritualitas universal dikatakan: Aku ketemu Higher-Self, diri yang lebih tinggi/Pribadi atau bahkan bisa ketemu dengan Highest –Self – Pribadi Sejati. Inilah inti kebatinan yang sesungguhnya.

Namun agaknya, yang diburu kebanyakan orang adalah anugerah-Nya. Yaitu anugerah yang mampu melihat hal-hal gaib. Mampu membaca tanda-tanda zaman. Anugerah bisa membaca masa depan. Ucapannya keramat, yang dikatakan menjadi kenyataan. Dan seterusnya. Bukan hubungan dan mendekatkan jarak dengan Tuhan.

Anugerah itu merupakan buah dari laku. Tuhan tidak akan memberikan sesuatu tanpa jerih payah, ikhtiar. Tiba-tiba ada seseorang memiliki kemampuan begini, bisa begini, bisa begitu, ngomong tidak karuan, jelas tidak ada yang percaya. Malahan dianggap gila, kerasukan makhluk halus. Jadinya dibawa ke orang pintar untuk disembuhkan.

Selengkapnya, baca tabloid posmo edisi 708, beredar 19 Desember 2012