Jelajah Gunung Agung Situbondo Jawa Timur (1): Berburu Mitos

warga yang turun gunung

Meski jalan menanjak berbatu dengan medan yang cukup berat dan terjal, gunung yang satu ini merupakan salah satu wisata religi yang terdapat di Situbondo. Tidak sedikit peziarah yang mendatangi gunung yang tingginya 1.250 mdpl. Lantas apa yang dicari para peziarah dengan bersusah-susah untuk datang ke gunung ini? Berikut jelajah posmo.

Pasti tidak asing di telinga kita jika mendengar Gunung Putri Tidur. Ya… deretan gunung yang terlihat sepanjang perlajanan di Situbondo, yang berbentuk menyerupai wajah perempuan tidur telentang menghadap ke atas langit dengan rambut terburai di tanah. Ternyata gunung ini merupakan susunan dari beberapa gunung yang berada di daerah Situbondo.

Salah satu dari gugusan tersebut yaitu Gunung Agung. Gunung ini merupakan salah satu wisata religi yang terletak di daerah Situbondo. Berseberangan dengan petilasan Syekh Maulana Ishaq yang berada di bukit Pecaron sepanjang pasir putih, Tepatnya di Desa Klatakan, Kec. Kendit, Kab. Situbondo.

Menuju gunung ini posmo menempuh perjalanan dari Surabaya pukul 11.00 WIB menggunakan sepeda motor mengikuti arah Gempol lalu belok kiri. Setelah itu lurus mengikuti arah jalan menuju Pasuruan, berlanjut mengikuti arah Probolinggo. Pukul 15.00 WIB di Probolinggo berhenti sejenak karena cuaca yang kurang memungkinkan, hujan disertai angin kencang yang sempat mematahkan batang pepohonan di area tepian jalan kabupaten Probolinggo sehingga cukup membahayakan dan menggangu lalu-lintas pengguna jalan.

Supaya kondisi kembali bugar dan stamina kembali seperti semula, posmo memutuskan mencari penginapan untuk beristirahat terlebih dahulu. Penginapan di daerah ini relatif murah, berkisar antara 80 ribu rupiah – 250 ribu rupiah. Jadi tidak usah merogoh saku terlalu dalam. Di sepanjang tepian jalan juga terdapat beberapa warung yang buka 24 jam. Sehingga tidak perlu kahwatir jika perut sedang keroncongan karena warung terdekat siap melayani.

Setelah makan dan cukup istirahat, pukul 07.00 WIB perjalanan menuju Gunung Agung pun dimulai. Roda kembali berputar menggilas aspal jalur pantura menuju Desa Klatakan, Kecamatan Kendit. Jaraknya kurang lebih 10 Km dari penginapan, sesampainya di sana bagi yang belum pernah naik ke Gunung Agung sebaiknya menuju ke rumah kepala Dusun Pecaron. Karena tidak sedikit orang yang tersesat saat naik ke gunung yang dianggap keramat ini.

Maka dari itu, jika ingin naik ke gunung ini, Kepala Dusun Pecaron akan memberikan sedikit gambaran mengenai seluk beluk Gunung Agung. Setelah itu akan menyarankan orang yang dianggap sering naik ke Gunung Agung untuk menjadi penunjuk arah ke tempat tujuan hingga kembali turun gunung, tentunya dengan imbalan rupiah untuk jasa penunjuk arah. Saat itu posmo diantar oleh Misdan, salah satu warga yang sudah sering naik turun gunung untuk mengantarkan para peziarah yang ingin naik ke Gunung Agung.

Perjalanan menuju ke gunung keramat ini tidaklah mudah karena harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati sederetan rumah warga yang berjajar di sepanjang perjalanan, tidak berapa lama mulai terlihat areal persawahan yang cukup menyejukkan sejauh mata memandang di kaki gunung. Sambil berbincang, tibalah di jalan setapak yang berbatu. Ternyata jalan inilah satu-satunya akses untuk menuju ke puncak Gunung Agung yang selama ini menjadi wisata religi di Kabupaten Situbondo. (Selengkapnya baca Tabloid posmo edisi 719)