Korupsi di Negeri Mayoritas Islam

ILUS_renung

Salah satu penyakit kronis yang masih menggerogoti bangsa ini adalah korupsi. Berbagai pihak meyakini, penyakit ini telah menyebarluaskan ke seantero negeri dengan jumlah yang dari tahun ke tahun cenderung semakin meningkat. Modusnya pun makin beragam.

Hasil riset yang dilakukan sejumlah lembaga  menunjukkan bahwa tingkat korupsi di negeri yang mayoritas muslim ini termasuk yang paling tinggi di dunia. Pendek kata, segala urusan semua bisa lancar bila ada pelicin.

Ironis dan menyedihkan. Padahal Indonesia amat dikenal sebagai bangsa yang religius dan taat pada ajaran agama. Tetapi mengapa korupsi begitu tumbuh subur? Agama mana pun, khususnya Islam, mengutuk tindakan korupsi dalam bentuk apa pun. Bahkan, berdasarkan hukum fiqih, korupsi itu mencuri, yang sangsinya harus dipotong tangannya.

Dalam konteks ajaran Islam yangt lebih luas, korupsi merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip keadilan (al-adlah), akuntabilitas (al-amanah), dan tanggung jawab. Korupsi dengan segala dampak negatifnya yang menimbulkan berbagai distorsi terhadap kehidupan negara dan masyarakat, dapat dikategorikan termasuk perbuatan fasad, kerusakan di muka bumi. Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa Islam amat membenci korupsi.

Dalam perspektif ajaran Islam, korupsi termasuk perbuatan fasad atau perbuatan yang merusak tatanan kehidupan yang pelakunya dikategorikan melakukan jinayah kubro (dosa besar) yang pelakunya harus dihukum mati atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan cara menyilang (tangan kanan dengan kaki kiri atau tangan kiri dengan kaki kanan), dan diusir.

Hal ini sebagaimana dawuh Allah SWT : Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka (dengan menyilang) atau dibuang dari negeri kediamannya. Yang demikian itu suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka peroleh siksaan yang besar.(QS Al Maidah : 33). (Selengkapnya baca Tabloid posmo edisi 720)