Polemik Pembangunan Kampung Majapahit

kampung majapahit

Rencana pembangunan Kampung Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jatim menuai polemik. Ada yang pro, ada pula yang kontra. Meski banyak kritikan, tampaknya akan tetap direalisasikan. Pesannya, jangan sampai merusak situs sejarah. Berikut laporan posmo.

Tabir-tabir masa lampau sedikit demi sedikit mulai terkuak. Tidak terlalu dalam, sekitar 50 centimeter tertimbun dalam tanah. Tampak susunan batu bata dengan ukuran yang berbeda dengan ukuran batu bata masa kini. Warnanya terlihat mulai menghitam termakan waktu, membentuk formasi bangunan dengan berbagai macam pola. Beberapa abad terkubur, akhirnya bisa berjumpa dengan sang surya yang sudah sekian lama dinanti.

Sisa-sisa ibu kota Kerajaan Majapahit, sensasi pesona, dan rasa ingin tahu tentang masa lalu itu seakan lenyap ketika menatap batu-batu besar berbalut semen telah membentuk tembok-tembok tinggi tepat di atas lapisan batu bata kuno. Di lapangan seluas 63 meter x 63 meter itu juga terlihat beberapa tumpukan batu bata kuno yang telah dikeluarkan dari galian tanah yang digunakan sebagai pondasi.

Di beberapa titik, tanah dengan kandungan sejarah yang tak ternilai harganya, digali cukup dalam seperti sumur berbentuk persegi. Di dalamnya, saat ini telah tertanam struktur dari beton yang telah dicor dengan semen.

Ya, itulah yang bakal dijadikan sebagai pondasi pilar penyangga Trowulan Information Center, bangunan berbentuk bintang bersudut delapan yang menjadi bagian dari Taman Majapahit atau Majapahit Park. Rencananya, akan ada 50 pilar semacam itu.

Pada tanggal 3 November 2008, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik meletakkan batu pertama pembangunan Majapahit Park di tengah lapangan itu. Majapahit Park adalah proyek ambisius pemerintah untuk menyatukan situs-situs peninggalan ibu kota Majapahit di Trowulan dalam sebuah konsep taman terpadu, dengan tujuan menyelamatkan situs dan benda- benda cagar budaya di dalamnya dari kerusakan dan menarik kedatangan turis.

Bangunan Trowulan Information Center (disebut juga Pusat Informasi Majapahit), yang memakan lahan seluas 2.190 meter persegi dan dirancang oleh arsitek Baskoro Tedjo itu adalah tahap pertama dari keseluruhan proyek senilai Rp 25 miliar, yang direncanakan selesai dalam tiga tahun mendatang. Ironinya, proyek pembangunan itu justru memakan korban situs itu sendiri, bahkan di tahap yang paling awal.

Mainstream Majapahit

Sekitar 290 rumah di bekas kota kerajaan Majapahit di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, akan dijadikan rumah khusus kampung Majapahit. Juga segera dibangun miniatur Kerajaan Majapahit di Trowulan. Rencana besar ini dilontarkan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Kacung Marijan saat menghadiri pembukaan Hari Pusaka Dunia di Trowulan, Mojokerto, 18 April 2013.

Dari pembangunan ini diharapkan nantinya Trowulan akan menjadi kampung Majapahit yang mendunia. Kacung menambahkan bahwa Trowulan adalah bekas kota kerajaan terbesar Asia, Majapahit. Karena itu, semua pihak termasuk pemerintah provinsi dan kabupaten kota bersinergi menjadikan Trowulan sebagai mainstream kerajaan Majapahit.

Di kampung kerajaan ini, ratusan rumah akan menjadi rumah yang dibangun mirip dengan bangunan pada era kerajaan Majapahit pada zaman dahulu. Saat ini peta lokasi perkampungan yang bakal menjadi kampung kerajaan Majapahit sudah ada mulai dari lokasi pendopo, tempat peribadatan, sampai pusat ekonomi juga sudah diketahui.